Menelusuri Jejak Sejarah Kota Tangerang: Dari Benteng Pertahanan hingga Kota Industri Modern

Bendung Pasarbaru Irigasi di Kota Tangerang yang berdiri kokoh di atas aliran Sungai Cisadane. (Foto by Google Lentera. com/Ahmad)

TANGERANG – Kota Tangerang bukan sekadar kota penyangga ibu kota. Di balik deretan kawasan industri dan perumahan modern, tersimpan jejak sejarah panjang yang membentuk identitasnya hari ini. Dari wilayah pertahanan Kesultanan hingga pusat pertumbuhan ekonomi, Tangerang memiliki perjalanan yang sarat makna.

Awal Mula: Wilayah Strategis Kesultanan Banten

Sejarah Tangerang bermula pada abad ke-16 saat wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten. Letaknya yang strategis di sepanjang Sungai Cisadane menjadikan kawasan ini penting sebagai jalur perdagangan sekaligus benteng pertahanan menghadapi ekspansi VOC Belanda di Batavia.

Nama “Tangerang” diyakini berasal dari kata “tengger” (penanda) dan “perang”, merujuk pada tugu perbatasan antara wilayah Banten dan kekuasaan Belanda. Penanda tersebut menjadi simbol perlawanan sekaligus batas wilayah pada masa konflik.

Era Kolonial: Pertanian dan Infrastruktur

Memasuki abad ke-17 hingga awal abad ke-20, Tangerang berada di bawah kendali kolonial Belanda. Wilayah ini berkembang sebagai daerah pertanian dan perkebunan, terutama tebu dan karet.

Salah satu peninggalan penting dari masa itu adalah Bendungan Pintu Air Sepuluh yang dibangun untuk mengatur irigasi pertanian. Keberadaan bendungan ini menjadi saksi perkembangan sistem pengairan modern di wilayah tersebut.

Pada periode ini pula, komunitas Tionghoa mulai berkembang dan membentuk identitas budaya khas yang masih terasa hingga kini, terutama di kawasan Pasar Lama dan melalui bangunan bersejarah seperti Museum Benteng Heritage.

Masa Perjuangan Kemerdekaan

Saat pendudukan Jepang (1942–1945), kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Tangerang mengalami perubahan signifikan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, wilayah ini turut menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tangerang kemudian menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat sebelum akhirnya masuk ke Provinsi Banten saat provinsi tersebut resmi terbentuk pada tahun 2000.

Resmi Jadi Kota dan Berkembang Pesat

Kota Tangerang resmi berdiri sebagai daerah otonom pada 28 Februari 1993 berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1993. Sejak saat itu, pertumbuhan kota ini berlangsung pesat.

Berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Tangerang menjelma menjadi pusat industri, perdagangan, dan jasa. Ribuan perusahaan berdiri di wilayah ini, menjadikannya salah satu motor penggerak ekonomi di Provinsi Banten.

Identitas Kota di Tengah Modernisasi

Kini, Kota Tangerang dikenal sebagai kota yang memadukan sejarah dan modernitas. Sungai Cisadane yang dahulu menjadi jalur perdagangan kini bertransformasi menjadi ruang publik dan ikon wisata kota.

Keberagaman budaya Betawi, Sunda, dan Tionghoa membentuk wajah sosial masyarakat Tangerang yang dinamis dan harmonis.Sejarah panjang yang dimiliki Kota Tangerang menjadi pengingat bahwa di balik pesatnya pembangunan, terdapat akar budaya dan perjuangan yang membentuk kota ini hingga menjadi seperti sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *