LENTERAA. COM – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Di balik ibadah puasa, tersimpan proses ilmiah yang disebut sebagai “servis besar” bagi tubuh. Secara sains, ketika seseorang berpuasa lebih dari 12 jam, tubuh memasuki fase penting bernama autofagi—mekanisme alami di mana sel menghancurkan komponen yang rusak dan mendaur ulangnya menjadi energi baru.
Fenomena autofagi menjadi sorotan dunia setelah ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, meraih Hadiah Nobel Kedokteran 2016 atas penelitiannya tentang mekanisme ini. Penemuan tersebut menegaskan bahwa tubuh manusia memiliki sistem “pembersihan internal” yang aktif saat asupan makanan dibatasi dalam periode tertentu.
Melalui autofagi, tubuh membantu proses detoksifikasi alami, memperbaiki jaringan sel yang meradang, serta menjaga keseimbangan fungsi organ. Dengan kata lain, puasa dapat diibaratkan sebagai tombol restart alami bagi kesehatan jangka panjang.
Pencernaan Istirahat, Gula Darah Stabil
Selain memberi kesempatan sel untuk beregenerasi, puasa juga memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan. Saat tidak terus-menerus mencerna makanan, organ-organ seperti lambung dan hati bekerja lebih efisien.
Sejumlah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa puasa teratur berkontribusi dalam menstabilkan kadar gula darah serta membantu menurunkan kolesterol jahat (LDL). Dampaknya, risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 dan gangguan jantung dapat ditekan secara alami tanpa intervensi mahal.
Namun para ahli mengingatkan, manfaat tersebut bisa hilang jika pola berbuka dilakukan secara berlebihan. Konsumsi gorengan, minuman manis, dan gula dalam jumlah tinggi justru memicu sugar crash—kondisi di mana energi melonjak cepat lalu turun drastis sehingga tubuh terasa lemas.
Dr. Andromeda dari Universitas Pasundan (Unpas) menyarankan agar menu berbuka difokuskan pada asupan serat, protein, serta cairan yang cukup agar proses regenerasi sel tetap optimal.
Otak Lebih Tajam Berkat BDNF
Tak hanya berdampak pada fisik, puasa juga memberikan efek positif pada fungsi otak. Saat berpuasa, tubuh meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF)—protein yang berperan dalam pertumbuhan dan perlindungan sel saraf.
BDNF sering disebut sebagai “pupuk” bagi otak karena membantu meningkatkan daya ingat, fokus, serta kemampuan belajar. Tidak heran jika sebagian orang merasakan pikiran lebih jernih dan konsentrasi meningkat setelah beberapa hari menjalani puasa.
Ramadan sebagai Titik Balik Sehat
Ramadan dapat menjadi momentum perubahan gaya hidup. Dengan niat yang tulus dan pola makan yang tepat, manfaat puasa bukan hanya bernilai spiritual, tetapi juga ilmiah.
Alih-alih melihat puasa sebagai beban, masyarakat dapat memaknainya sebagai kesempatan reset tubuh secara alami—membersihkan sel, menyeimbangkan metabolisme, serta menyegarkan fungsi otak.
Ramadan tahun ini bisa menjadi awal kebiasaan sehat jangka panjang. Pertanyaannya, sudah siapkah Anda menekan tombol “reset” tubuh bulan ini?











Respon (2)