LENTERAA.COM – Di tengah hiruk pikuk dunia yang serba cepat, Ramadan hadir sebagai jeda yang sangat berharga bagi kesehatan mental. Bulan suci ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang refleksi untuk menata ulang pikiran dan perasaan.
Puasa melatih kita untuk sadar sepenuhnya (mindfulness) terhadap apa yang kita rasakan, pikirkan, dan ucapkan. Setiap dorongan emosi, keinginan instan, hingga reaksi spontan, diuji dan dikendalikan. Ini adalah latihan pengendalian diri tingkat tinggi yang dampaknya jauh melampaui meja makan.
Riset Psikologi: Puasa Turunkan Stres dan Kecemasan
Sejumlah ahli psikologi menilai ibadah Ramadan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental. Akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), misalnya, menyebut bahwa praktik ibadah selama Ramadan dapat membantu menurunkan tingkat stres, kecemasan, hingga gejala depresi ringan.
Secara fisiologis, saat berpuasa tubuh mengalami penyesuaian hormon. Produksi kortisol—yang dikenal sebagai hormon stres—cenderung menurun, sementara serotonin meningkat dan menciptakan rasa lebih tenang serta stabil secara emosional.
Ramadan juga menjadi momen “digital detox” alami. Intensitas ibadah, waktu berbuka bersama keluarga, hingga fokus pada aktivitas spiritual membantu mengurangi paparan berlebihan terhadap media sosial dan informasi negatif yang kerap memicu kecemasan.
Melatih Sabar dan Regulasi Emosi
Puasa adalah terapi terbaik untuk melatih kesabaran (sabr). Dengan menahan dorongan instan untuk makan, minum, atau meluapkan amarah, seseorang sedang memperkuat sirkuit otak yang berperan dalam regulasi emosi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang rutin berpuasa memiliki kontrol emosi yang lebih baik—bahkan disebut mencapai 54 persen lebih stabil dibandingkan saat tidak menjalankan puasa. Artinya, Ramadan menjadi laboratorium latihan mental yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan Perut dan Hati: Perspektif Psikologi Islam
Dalam perspektif psikologi Islam, kejernihan batin kerap berawal dari kesederhanaan konsumsi. Saat tubuh merasakan lapar, empati terhadap mereka yang kurang beruntung ikut terasah. Dari sana tumbuh rasa syukur yang lebih mendalam.
Kesadaran ini memperkuat hubungan antara perut dan hati—bahwa pengendalian fisik berpengaruh langsung pada ketenangan batin. Tidak berlebihan jika Ramadan disebut sebagai bulan penyucian jiwa.
Tarawih dan Efek Relaksasi Seperti Meditasi
Ketenangan semakin lengkap dengan ibadah malam seperti salat Tarawih. Gerakan salat yang ritmis, dipadukan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, terbukti memiliki efek relaksasi yang mirip dengan meditasi.
Ritme gerakan dan bacaan membantu menurunkan detak jantung, menstabilkan tekanan darah, serta memberikan rasa damai yang mendalam. Dalam jangka panjang, praktik ini dapat meningkatkan ketahanan mental dan keseimbangan emosi.
Ramadan 2026: Momentum Bangun Ketahanan Mental
Ramadan 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ritual fisik semata. Lebih dari itu, bulan suci ini bisa menjadi momentum memutus rantai kebiasaan buruk—seperti reaktif terhadap emosi, konsumtif, atau terlalu larut dalam distraksi digital.
Ketenangan sejati dimulai dari kemampuan menguasai diri sendiri. Ramadan adalah sekolah kehidupan yang melatih kesadaran, kesabaran, dan empati.
Dengan menjadikan mindfulness sebagai bagian dari ibadah, Ramadan bukan hanya memperkuat iman, tetapi juga membangun fondasi mental yang lebih tangguh di tengah tantangan zaman.










