KOTA TANGERANG – Ramadan identik dengan bulan penuh berkah, kesederhanaan, dan pengendalian diri. Namun di balik suasana religius tersebut, ada ironi yang kerap terulang setiap tahun: lonjakan produksi sampah, terutama limbah makanan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa limbah makanan di Indonesia meningkat hingga 20 persen selama bulan puasa. Fenomena “lapar mata” saat berburu takjil menjadi salah satu pemicu utama makanan terbuang sia-sia.
Limbah Makanan dan Dampaknya bagi Lingkungan
Limbah makanan bukan sekadar persoalan sampah rumah tangga. Saat sisa makanan membusuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), proses dekomposisinya menghasilkan gas metana. Gas ini diketahui 25 kali lebih berbahaya dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam memicu pemanasan global.
Artinya, kebiasaan membeli makanan berlebihan saat berbuka tidak hanya berdampak pada pemborosan ekonomi, tetapi juga memperparah krisis iklim. Padahal, esensi Ramadan mengajarkan pengendalian diri, termasuk menahan diri dari perilaku konsumtif dan berlebihan.
“Ramadan Hijau” Dimulai dari Perencanaan
Konsep Ramadan Hijau hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Langkah awalnya bisa dimulai dari perencanaan menu berbuka dan sahur. Sebelum pergi mencari takjil, masyarakat disarankan membuat daftar kebutuhan yang realistis.
Berbelanja dalam kondisi lapar sering kali membuat seseorang membeli lebih banyak dari yang mampu dikonsumsi. Dengan perencanaan yang matang, potensi makanan terbuang dapat ditekan secara signifikan.
Kurangi Plastik Sekali Pakai
Selain limbah makanan, sampah plastik juga meningkat selama Ramadan. Penggunaan kantong plastik dan kemasan sekali pakai saat membeli takjil menjadi penyumbang utama.
Membawa wadah sendiri dari rumah mungkin terlihat merepotkan. Namun, jika dilakukan secara konsisten selama 30 hari, ribuan kantong plastik dapat dihemat. Langkah kecil ini menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap kelestarian bumi.
Momentum Ramadan 2026
Ramadan 2026 menjadi momentum tepat untuk memulai tradisi baru yang lebih ramah lingkungan. Dengan kesadaran kolektif, setiap keluarga dapat berkontribusi mengurangi limbah makanan dan sampah plastik.
Menjadikan setiap suapan berbuka sebagai bentuk syukur yang bertanggung jawab adalah langkah kecil yang berdampak besar. Puasa akan terasa lebih bermakna ketika tidak hanya menjaga diri, tetapi juga menjaga bumi yang menjadi tempat kita berpijak.










