AWAL MULA BANGSA ARAB MENYEMBAH BATU
LENTERAA. com – Perlu kita ketahui terlebih dahulu, bahwa sebagian besar penduduk yang menghuni tanah Hijaz, merupakan generasi dari anak keturunan Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim. Pada masa Nabi Ismail hidup, kemurnian tauhid sangat terjaga, ajaran yang diwariskan oleh Nabi Ismail dan tak terkecuali juga yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim tentunya, tetap dijalankan sebagaimana mestinya.
Namun ketika mereka telah tiada dan muncul generasi-generasi selanjutnya, dan tidak adanya nabi ataupun orang yang mengajarkan ajaran tauhid disana, maka ajaran tauhid pun sedikit demi sedikit menghilang dan timbul lah banyak kesesatan di sana.
Para sejarawan mengatakan, bahwa awal mula merebaknya kesesatan di wilayah Arab Hijaz, diawali dengan suatu perkara yang sangat sepele, yang mungkin saja mereka tidak menyadari bahwa perbuatan yang sepele itu akan mengakibatkan sesuatu yang sangat fatal dan sangat sulit untuk diluruskan.
Diceritakan bahwa, dahulu kala sepeninggal Nabi Ismail a.s dan generasi demi generasi terus bergantian, orang-orang Arab di masa lalu ketika mereka hendak pergi dari Tanah Haram atau Makkah untuk berdagang dan mencari rezeki, mereka akan membawa batu Tanah Haram. Ketika mereka singgah disatu tempat, mereka akan meletakkan batu itu dan akan berputar mengelilinginya sebagaimana mereka thawaf mengelilingi Ka’bah sambil mereka berdoa kepada Allah.
Kalau mereka hendak pergi kembali, maka mereka akan membawa batu itu lagi pergi bersama mereka. Parahnya, setelah masa berganti, dan anak keturunan mereka melihat kebiasaan itu sering dilakukan, hal itu membuat mereka menganggap bahwa dahulu moyang mereka selalu menyembah batu untuk memohon perlindungan dan keberkahan kepada batu ketika mereka hendak bepergian.
Semenjak saat itu, mulai ramailah orang-orang menganggap bahwa batu itu adalah sesembahan bagi mereka yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. disinilah awal mula keturunan Nabi Ismail terutama dari kalangan Bani Adnan menyembah batu yang sering kita sebut sebagai berhala (watsaniyah).
Baca Juga: Derita dan Maksiat, Apakah Takdir Allah?
MULAI AKRAB DENGAN BERHALA
Kemudian waktu berlalu kembali, muncul seorang bernama Amr bin Luhay, ketika ia pergi melakukan perjalanan dari Makkah ke Syam, dia melihat penduduk Syam menyembah patung, maka dia bertanya ke penduduk Syam terkait hal tersebut.
Penduduk Syam menjawab “kami menyembah patung untuk turun hujan, ketika kami menyembahnya, hujan pun turun, ketika kami meminta pertolongan dengannya, kami pun di tolong,” mendengar jawaban itu, Amr bin Luhay kemudian meminta sebagian patung milik penduduk Syam untuk dibawa ke Makkah agar orang-orang Makkah pun melakukan hal yang sama seperti penduduk Syam.
Kemudian penduduk Syam memberikan Amr bin Luhay sebuah patung yang bernama Hubal. Patung itu lah yang kemudian diletakkan di Ka’bah dan tetap ada hingga sampai terjadinya peristiwa Fathu Makkah.
Orang-orang Arab yang menyembah Hubal ataupun patung lainnya, biar bagaimanapun tetap tidak rela jika dia dipanggil sebagai orang musyrik, karena nyatanya dia juga mengenal Allah bahkan juga mengetahui adanya malaikat, kedua pengetahuan itu didapatkan dari sisa pengajaran tauhid Nabi Ismail yang masih tetap terwariskan dan terjaga kepada mereka, dan mereka hanya menganggap penyembahan terhadap patung ataupun berhala, tujuannya tak lain agar mereka bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui patung tersebut.
Oleh karenanya, Al-Qur’an memberikan gambaran tentang sangkaan mereka yang sesat itu, dimana Allah berfirman dalam penggalan surat Az-zumar ayat 3.
وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ
“Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya…” (Q.S. Az-Zumar: 3).
Lebih tegasnya, Menurut Jalaluddin As-Suyuthi, ayat tersebut turun berkenaan dengan tiga bangsawan suku Arab, yaitu Amir, Kinanah, dan Bani Salamah.
Mereka semua ini penyembah berhala dan juga punya anggapan kalau para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah, maka dari itu untuk membongkar kesesatan mereka, Allah menurunkan surat tersebut, sekaligus memberi tahu kepada kita, bahwa apapun alasan yang mereka kemukakan dalam hal menyembah berhala, yang mana mereka berniat hanya menjadikan berhala itu sebagai perantara kedekatan saja kepada Allah, tetap tidaklah dibenarkan.
Kesimpulannya, kesesatan mereka itu terjadi bukan karena prilaku yang dilakukan sekali dua kali ataupun setahun dua tahun, tetapi karena kebiasaan yang dijalankan oleh para pendahulu mereka yang berlangsung sejak lama.
Makanya ada sebuah ungkapan yang bagus untuk kita ingat, “keburukan yang sering di jalankan orang dan tidak ada yang berusaha menegurnya, bisa jadi lama kelamaan akan dianggap sebagai sebuah kebaikan”.
Untuk itu perlu lah kita mewariskan kebiasaan yang baik-baik supaya hal itu menjadi norma dan prilaku yang dibiasakan.




