LENTERAA.com – Kala berbicara tentang takdir, biasanya kita akan disuguhkan penjelasan dari para da’i bahwa baik dan buruknya itu semua berasal dari Allah (َخَیْرِهِ و شَرِّهِ مِنَ اللّٰه).
Karena sejatinya memang tidak ada satu kejadian di muka bumi ini yang terjadi kecuali ada takdir Allah disitu, termasuk juga keburukan yang dialami oleh manusia.
Lantas yang jadi pertanyaan sekarang yang mungkin sering kali hinggap di fikiran kita masing-masing adalah kalau memang benar semua yang terjadi di dunia ini atas takdir Allah, apakah penderitaan yang dialami manusia adalah takdir Allah, apakah segala kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia juga sama halnya seperti takdir buruk yang merupakan takdir Allah, apakah boleh kita menisbatkan keburukan dan kemaksiatan yang terjadi pada manusia atas takdir Allah?
Untuk menjawab ini, kita perlu fahami dulu sekali lagi, bahwa takdir baik dan buruk itu kita sepakati memang berasal dari Allah, artinya ketika kita diberi gembira-sedih, senang-nelangsa, tertawa-menangis, pastinya itu memang merupakan kehendak Allah dan pemberian Allah.
Lalu kalau semua itu terjadi atas kehendak Allah, sekarang dimana kuasanya manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri? Sebenarnya manusia juga berperan dan ikut andil dalam bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, terlebih manusia juga diberi dukungan akal untuk menentukan hasil baik-dan buruknya dan mencari nilai baik-buruknya atas suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan tuntunan wahyu.
Jadi sebenarnya secara akal manusia bisa mempertimbangkan baik dan buruk berikut juga hasilnya, kalau saya minum madu hasilnya akan menyehatkan, sebaliknya ketika minum racun akan membahayakan, kalau sudah tahu hasilnya, harusnya kita bisa memilih mana yang terbaik untuk kita lakukan.
Sekarang kita kembali ke takdir yang buruk, karena yang biasanya digugat itu adalah masalah takdir yang buruk ini. Saya sangat gembira sekali ketika membaca pendapatnya Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam salah satu karyanya yang berjudul Madarijus Salikin, dimana dia menjelaskan dan memberi contoh.
Ketika ada seseorang merasakan kelaparan, sebenarnya itu adalah takdir Allah untuk dia, dan umumnya orang akan menganggap bahwa rasa lapar atau kelaparan itu adalah sesuatu yang tidak disenangi (takdir yang buruk), sehingga rasa lapar itu adalah takdir dan untuk melawan rasa lapar itu haruslah kita mengambil takdir yang lain yang menurut kita baik, yaitu adalah makan.
Jadi ketika seseorang mendapat takdir yang buruk yaitu rasa lapar maka harus dilawan dengan cara mengambil takdir yang baik, yaitu makan.
Bahkan kalau ada orang yang sengaja memelihara rasa laparnya hingga ia mati padahal ia mampu untuk makan dan mencari makan, maka ia mati dalam keadaan maksiat kepada Allah.
Itulah makna dari kata “baik dan buruknya takdir berasal dari Allah” artinya dia merasakan lapar dan juga bisa makan itu semuanya adalah takdir Allah.
Dalam hal ini berarti sesuatu yang buruk dari apa yang menimpa manusia dan manusia itu berusaha untuk menolaknya, semuanya sama-sama sedang berada di jalan takdir Allah.
Itu artinya ketika manusia misalnya ditakdirkan Allah untuk menderita suatu penyakit, kemudian dia berobat, maka berobatnya itu juga adalah takdir Allah.
Begitu juga misalnya ketika seseorang melakukan dosa kemudian dia bertobat, maka taubatnya itu juga takdir Allah. Atau misal yang lain, misalnya negeri kita sedang dilanda perang, peperangan yang terjadi itu adalah takdir, dan jihad melawan musuh di dalam peperangan itu juga takdir.
Jadi sebenarnya apapun yang kita perbuat sebenarnya juga tidak terlepas dari pada takdir itu sendiri. Kesemua pemikiran ini terangkum dalam konsep pemikiran Ibnu Qayyim yang ia ungkapkan dengan istilah Daf’ul Qodar bil Qadar ِدَفْعُ القَدَرِ بِالقَدَر yang artinya menolak takdir dengan cara mengambil takdir.
Pertanyaan selanjutnya, apakah maksiat yang dilakukan manusia itu juga takdir Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya teringat dengan kisah Umar bin Khattab, dimana ia pernah dihadapkan oleh seorang pencuri, ketika Umar bertanya kepadanya perihal kenapa dia mencuri, orang itu menjawab bahwa “ini sudah menjadi takdir Allah menjadikan saya sebagai seorang pencuri” kemudian Umar menjawab, “kalau begitu dengan takdir Allah juga saya akan memotong tangan kamu”.
Dan ga tanggung-tanggung, Umar bahkan menambah hukuman untuk orang tersebut dengan memberikan 30 kali hukuman cambuk karena dia sudah membawa Allah atas perbuatan maksiatnya itu.
Dalam hal ini Umar seolah memberikan pelajaran bahwa ketaatan dan kemaksiatan juga merupakan pilihan yang bisa dipilih oleh manusia, sehingga tidak boleh menisbatkan perbuatan maksiatnya itu di bawah takdir Allah, karena sejatinya manusia bisa memilih ketaatan sebagai jalan takdirnya yang lain yang bisa dia ambil ketimbang dia memilih jalan kemaksiatan.
Kata Allah di dalam Al-Qur’an
فَمَنْ شَاءَ فَالْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَالْيَكْفُرْ
(ingin beriman silahkan, ingin kufur juga silahkan)
