Budaya  

Tradisi Ngohtay, Penghormatan Tertinggi bagi Lima Generasi dalam Budaya Cina Benteng

Keluarga almarhum Lie Nari mengikuti prosesi tradisi Ngohtay dalam upacara pemakaman adat Cina Benteng di Kota Tangerang. (Lenteraa.com/Admin)

KOTA TANGERANG, LENTERAA.com – Di balik suasana duka sebuah kematian, masyarakat Cina Benteng memiliki tradisi yang memaknai akhir kehidupan sebagai puncak keberkahan. Tradisi tersebut dikenal sebagai Ngohtay, sebuah upacara adat yang hanya dapat diselenggarakan apabila seseorang meninggal dunia setelah menyaksikan lima generasi keturunannya masih hidup dalam satu garis keluarga.

Tradisi ini tergolong sangat langka karena hanya dapat dilakukan ketika seseorang telah memiliki keturunan hingga generasi kelima, yakni anak, cucu, cicit, dan canggah. Dalam budaya Cina Benteng, kondisi tersebut menjadi simbol umur panjang, keharmonisan keluarga, serta keberhasilan meneruskan garis keturunan.

Masyarakat Cina Benteng meyakini bahwa pencapaian tersebut mencerminkan konsep fu shou, yakni kehidupan yang dianugerahi usia panjang, keturunan yang berlimpah, dan keberkahan yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, prosesi Ngohtay bukan hanya menjadi upacara perpisahan, tetapi juga ungkapan syukur atas kehidupan yang dianggap telah mencapai kesempurnaan menurut adat.

Salah satu simbol utama dalam tradisi ini adalah pembentangan kain lima warna di atas peti jenazah. Lima warna tersebut melambangkan lima generasi dalam satu garis keturunan sekaligus menjadi penghormatan atas warisan keluarga yang telah diteruskan hingga generasi kelima.

Keunikan lainnya terlihat dari kehadiran canggah atau keturunan generasi kelima yang duduk di atas peti jenazah selama prosesi berlangsung. Tradisi ini menjadi simbol bahwa garis keturunan mendiang akan terus berlanjut. Bagi masyarakat Cina Benteng, seseorang yang sempat menyaksikan kelahiran canggah dianggap memperoleh anugerah yang sangat istimewa.

Baca Juga: Tinjau Kebakaran TPA Jatiwaringin, Anggota DPRD Banten F-PKB Syarifudin Salwani Desak Penanganan Cepat dan Mitigasi Jangka Panjang

Prosesi penghormatan dilanjutkan dengan seluruh anggota keluarga berjalan mengelilingi peti jenazah sebanyak tiga putaran, kemudian mengulanginya sekali lagi hingga berjumlah enam putaran. Setiap langkah melambangkan bakti (xiao) kepada orang tua dan leluhur, sekaligus menjadi simbol bahwa ikatan keluarga tetap abadi meski telah dipisahkan oleh kematian.

Berbeda dengan tradisi berkabung pada umumnya yang identik dengan pakaian berwarna putih atau hitam, keluarga dalam upacara Ngohtay justru mengenakan busana merah. Warna merah dimaknai sebagai lambang kebahagiaan, keberuntungan, dan keberkahan, sehingga kepergian mendiang dipandang bukan hanya sebagai peristiwa duka, melainkan juga perayaan atas kehidupan yang panjang dan penuh berkah.

Karena syarat pelaksanaannya sangat khusus, Ngohtay menjadi salah satu tradisi yang sangat jarang disaksikan. Tidak semua orang memiliki kesempatan hidup hingga melihat lima generasi keluarganya berkumpul dalam satu masa. Oleh sebab itu, masyarakat Cina Benteng menempatkan Ngohtay sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada seseorang yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya dengan penuh keberkahan.

Salah satu pelaksanaan tradisi tersebut berlangsung dalam upacara pemakaman almarhum Lie Nari yang wafat pada usia 98 tahun. Hingga akhir hayatnya, almarhum telah memiliki keturunan hingga generasi kelima atau canggah.

Sebagai penghormatan terakhir, keluarga melaksanakan seluruh rangkaian prosesi Ngohtay sesuai adat masyarakat Cina Benteng, mulai dari pembentangan kain lima warna di atas peti jenazah, kehadiran canggah di atas peti, penggunaan pakaian merah oleh keluarga, hingga prosesi enam putaran mengelilingi peti sebagai simbol bakti, penghormatan, dan rasa syukur atas kehidupan yang telah meninggalkan warisan lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *