TANGERANG, LENTERAA.com – Majlis Preman Indonesia bersama Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) menggelar pembinaan dakwah bagi kelompok marjinal melalui kegiatan Preman Riungan 8. Kegiatan tersebut mengusung tema “Dari Gelap Menuju Jalan Cahaya”.
Kegiatan berlangsung di Jalan Perdata 1, Komplek Pengayoman, Kota Tangerang, Sabtu (26/9/2026) malam. Puluhan peserta yang berasal dari komunitas marjinal, anak jalanan, mantan preman, serta perwakilan majelis turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan.
Acara diisi dengan sholawatan, penampilan hadroh, tausiah, serta doa bersama. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus pembinaan keagamaan bagi masyarakat yang selama ini berada di lingkungan sosial yang rentan dan membutuhkan pendampingan.
Staf Divisi Dakwah Mualaf dan Sabilillah Direktorat Pemberdayaan BAZNAS RI, Muhammad Ridwan Zein, mengatakan setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan pencerahan dan hidayah tanpa memandang latar belakang kehidupannya.
“Begitupun dakwah Islam harus merangkul dan mengayomi teman-teman marjinal,” ujar Ridwan saat memberikan sambutan dalam acara Preman Riungan 8.
Menurut Ridwan, kolaborasi antara BAZNAS RI dan Majlis Preman Indonesia merupakan salah satu bentuk komitmen untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggiran kehidupan sosial.
Ia menilai pendekatan dakwah yang humanis, persuasif, dan merangkul diperlukan agar masyarakat marjinal memiliki ruang untuk mendapatkan pendampingan serta kesempatan memperbaiki kehidupan.
“Pendekatan yang merangkul diharapkan dapat memberikan harapan baru dan membuka jalan bagi saudara-saudara kita untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Majlis Preman Indonesia, Hidayat Shaleh, yang akrab disapa Gus Dayat, menjelaskan bahwa Preman Riungan merupakan agenda rutin yang menjadi wadah silaturahmi sekaligus pembinaan spiritual bagi anggota dan masyarakat marjinal.
“Preman Riungan 8 ini bukan sekadar kumpul, tapi ikhtiar kita bersama untuk mengajak saudara-saudara kita keluar dari gelap menuju cahaya. Kita ingin buktikan bahwa preman juga bisa hijrah, bisa dekat dengan masjid dan peduli sesama,” kata Gus Dayat.
Ia menambahkan, sinergi dengan BAZNAS RI diharapkan dapat memperluas manfaat pembinaan. Menurutnya, pendampingan terhadap kelompok marjinal tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan spiritual, tetapi juga perlu disertai upaya pemberdayaan ekonomi.
“Kita berharap pembinaan ini tidak hanya berhenti pada aspek spiritual, tetapi juga ke depan dapat diarahkan pada pemberdayaan ekonomi agar teman-teman marjinal memiliki kemandirian dan kehidupan yang lebih baik,” tuturnya.
Gus Dayat berharap Preman Riungan dapat terus menjadi ruang untuk membangun persaudaraan, memperkuat kepedulian sosial, serta membuka kesempatan bagi kelompok marjinal untuk mendapatkan pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan.
Kegiatan Preman Riungan 8 kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar dan harapan agar seluruh peserta senantiasa diberikan kekuatan untuk menjalani perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
(SL)










