BMKG: Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Mayoritas Wilayah Berpotensi Alami Durasi Lebih Panjang

Pejabat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prakiraan awal musim kemarau 2026 dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: lenteraa.com/Reza

Jakarta, Lenteraa. com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dari biasanya. Kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang kini bergeser ke fase netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.

Informasi tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 yang digelar di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Rabu (4/3).

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi berada pada fase netral dan relatif stabil sepanjang tahun 2026.

“Dengan berakhirnya La Niña lemah dan pergeseran menuju fase netral hingga potensi El Niño di pertengahan tahun, sejumlah wilayah Indonesia diprakirakan mengalami awal musim kemarau yang lebih maju,” ujar Faisal.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Faisal menambahkan, dengan dinamika iklim tersebut, sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal.

BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi ini merupakan bentuk peringatan dini (early warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (early action) oleh para pemangku kepentingan.

“Langkah mitigasi dan kesiapsiagaan perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana kekeringan, terutama pada sektor pertanian, sumber daya air, dan kebencanaan,” tegasnya.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi dampak musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang pada 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *