Poros Baru Tangerang Gelar Aksi “Lima Tuntutan Rakyat”, Tolak Program MBG hingga Soroti Deforestasi

Massa yang tergabung dalam Poros Baru Tangerang menggelar aksi unjuk rasa di Taman Gajah, Cikokol, Kota Tangerang. (Lenteraa.com/Admin)

KOTA TANGERANG – Poros Baru Tangerang yang terdiri dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Tangerang, Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Banten menggelar aksi unjuk rasa di Taman Gajah, Cikokol, Kota Tangerang, Kamis (18/6/2026).

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan Lima Tuntutan Rakyat yang menyoroti berbagai isu nasional, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kesejahteraan guru, proyek geothermal di kawasan Gede Pangrango, hingga persoalan deforestasi dan profesionalisme aparat negara.

Koordinator Aksi, Topan Bagaskara, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis perlu dievaluasi dan dihentikan karena dinilai berdampak pada pengalihan anggaran dari sektor-sektor yang dianggap lebih mendesak, khususnya pendidikan.

“Kami menolak Program Makan Bergizi Gratis karena pelaksanaannya justru mengorbankan sektor yang lebih penting. Di saat kesejahteraan guru masih memprihatinkan dan kualitas pendidikan masih menghadapi banyak persoalan, pemerintah malah menghabiskan anggaran yang sangat besar untuk program yang sarat pencitraan,” tegas Topan dalam orasinya.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh program bantuan makanan, melainkan juga oleh kesejahteraan tenaga pendidik, ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai, serta pemerataan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat.

Selain isu pendidikan, massa aksi juga menyuarakan penolakan terhadap Proyek Geothermal Gede Pangrango. Mereka menilai proyek tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kelestarian kawasan konservasi yang memiliki fungsi ekologis penting.

“Kami menolak proyek Geothermal Gede Pangrango karena pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lingkungan hidup. Kawasan Gede Pangrango merupakan salah satu kawasan ekologis penting yang harus dijaga,” ujar Topan.

Dalam orasinya, massa juga menyoroti persoalan deforestasi hutan yang dinilai masih berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Mereka menilai alih fungsi kawasan hutan secara masif telah memperparah krisis lingkungan, meningkatkan risiko bencana, serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.

“Hutan bukan sekadar komoditas ekonomi yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Hutan adalah benteng terakhir kehidupan. Ketika hutan terus ditebang dan dirusak, yang dipertaruhkan bukan hanya pohon, tetapi masa depan lingkungan dan masyarakat adat,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Topan juga mengkritisi fenomena yang disebutnya sebagai munculnya “aktivis karbitan”, yakni kelompok yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa namun dinilai kehilangan sikap kritis setelah dekat dengan lingkaran kekuasaan.

“Hari ini kita menyaksikan sebagian aktivis tidak lagi berdiri bersama rakyat, melainkan berdiri di belakang penguasa. Ketika guru menjerit karena kesejahteraan yang tidak kunjung diperhatikan, ketika hutan dirusak dan ruang demokrasi semakin sempit, mereka memilih diam,” katanya.

Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai kekuatan kontrol sosial terhadap pemerintah dan harus tetap berpihak pada kepentingan rakyat.

“Sejarah membuktikan bahwa mahasiswa selalu hadir ketika rakyat membutuhkan suara perlawanan. Karena itu kami menolak menjadi generasi yang diam,” tegasnya.

Adapun Lima Tuntutan Rakyat yang disampaikan dalam aksi tersebut meliputi:

  1. Hentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  2. Segera Sejahterakan Guru.
  3. Hentikan Proyek Geothermal Gede Pangrango.
  4. Kembalikan TNI–POLRI pada Fungsi Profesionalnya.
  5. Hentikan Deforestasi Hutan.

Sebelum membubarkan diri, massa membacakan pernyataan sikap dan menegaskan komitmen untuk terus mengawal berbagai kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat melalui gerakan advokasi, pendidikan politik, serta konsolidasi gerakan yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *